Welcome to SLANK Portal
It's All About The Attitude
SLANK ITU ADALAH
Anak muda
Slenge'an.
Seenak-enaknya.
Apa adanya.
Semakin ada keberaniannya
Semakin ada keyakinannya.
Sedikit agak sembarangan.
Sedikit ada sembrono.
Tapi yang penting punya sikap...
Itu saja ...........
Slank adalah sebuah grup musik terkenal di Indonesia. Dibentuk oleh Bimbim pada 26 Desember 1983 karena bosan bermain musik menjadi cover band dan punya keinginan yang kuat untuk mencipta lagu sendiri. Daftar isi [tampilkan]
Awal Karir
Cikal bakal lahirnya Slank adalah sebuah grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) bentukan Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada awal tahun 80-an. Band ini hanya memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan tak mau memainkan lagu dari band lain, alhasil mereka akhirnya jenuh dan menjelang akhir tahun 1983 grup ini dibubarkan.[1]
Bimbim meneruskan semangat bermusik mereka dengan kedua saudaranya Denny dan Erwan dengan membentuk Red Evil yang kemudian berganti nama jadi Slank[2], sebuah nama yang diambil begitu saja dari cemoohan orang yang sering menyebut mereka cowok selengean[1] dengan personel tambahan Bongky (gitar) dan Kiki (gitar). Kediaman Bimbim di Jl. Potlot 14 jadi markas besar mereka.
Mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri sebelum Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank.[1] Dengan perjuangan panjang terbentuklah formasi ke-13, Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra, Slank baru solid.[2]
Dengan formasi Bimbim (Drum), Bongky (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal) dan Indra (Keyboard) mereka mulai membuat demo untuk ditawarkan ke perusahaan rekaman.[1]
Setelah berulang kali ditolak, akhirnya tahun 1990 demonya diterima dan mulai rekaman debut album Suit-Suit... He He He (Gadis Sexy). Album yang menampilkan hit Memang dan Maafkan itu meledak dipasaran sehingga mereka pun diganjar BASF Award untuk kategori pendatang baru terbaik. Album kedua mereka, Kampungan pun meraih sukses yang sama. [1]
Pada saat menggarap album keenam (Lagi Sedih), Bimbim selaku leader akhirnya memutuskan untuk memecat Bongky, Pay dan Indra.[1] Kaka dan Bimbim tetap menggarap album ke-6 dengan bantuan additional player[2].
Sebagai gantinya mereka merekrut Ivanka (Bass), Mohamad Ridho Hafiedz (Ridho) dan Abdee Negara (Abdee). Formasi ini bertahan hingga saat ini dan mereka terus melahirkan karya-karya yang menegaskan eksistensi mereka di dunia musik Indonesia.[1]
Narkoba
Terbujuk rayuan teman di Bali 14 tahun lalu, Bimbim—penabuh drum grup musik Slank—dan sepupunya, Kaka—vokalis Slank—pun mencecapi ”obat langit” yang membuat pemakainya melayang-layang dan ketagihan.
Waktu pertama kali mencoba (1994), mereka bilang badan jadi tidak enak. Muntah-muntah. Enek. Tapi kok besok paginya mencari lagi? Itulah putaw, sekali pakai orang langsung ketagihan. Maka berlanjutlah ia memakai putau.
Semenjak memakai jenis narkoba ini, Bimbim yang biasanya pendiam, rapi, tak suka teriak-teriak, tiba-tiba berubah. Demikian juga Kaka.
Banyak pengalaman tidak menyenangkan semenjak mereka pakai (1994) sampai tahun 1999. Pengalaman di Lubuk Linggau tahun 1998 adalah salah satunya. Saat itu Slank sedang dalam rangkaian sebuah tur, mereka kehabisan barang dan mengalami sakau. Biasanya para junkie selalu jeli mencari celah untuk mendapatkan barang kebutuhan mereka namun kali ini tidak ada yang menjual barang seperti itu di Lubuk Linggau. Bimbim sampai lemas dan tidak bisa bangun, bahkan saat sedang di atas panggung, Bimbim tidak dapat melaksanakan tugasnya untuk main drum. Ia terduduk di sisi panggung drum. Akhirnya konser pun dihentikan setelah memainkan sekitar 4 lagu. Slank turun panggung.
Bimbim kembali ke kamarnya, lemas. Padahal mereka masih harus melayani wartawan untuk wawancara. Tinggal Kaka, yang badannya lebih kuat, melayani wartawan, meski dengan susah payah. [3]
Slank membantah anggapan bahwa dengan mengkonsumsi Narkoba seorang seniman bisa lebih kreatif, justru sebaliknya, tanpa menggunakan barang haram tersebut mereka terbukti bisa menghasilkan karya-karya bagus. [4]
"Saat bikin album pertama sampai ketiga, kami belum pakai Narkoba, tapi album itu terbukti paling bagus. Jadi, tanpa Narkoba kami bisa menghasilkan karya yang bagus. Setelah album ketiga, kami menjadi pengguna," ujar Kaka. [4]
Slankografi
Album-album Slank bersifat concept album. Selalu menghadirkan pesan-pesan dalam lirik-lirik lagunya. Dalam tiap album Slank selalu mengandung masalah anak-muda, cinta dan roman, lingkungan hidup, kritik sosial, kadang-kadang ada unsur kelima yaitu party.
Album Studio
1990 - Suit-Suit....Hehehe (Gadis Sexy)
1991 - Kampungan
1993 - Piss
1995 - Generasi Biru
1996 - Minoritas
1996 - Lagi Sedih
1997 - Tujuh
1998 - Mata Hati Reformasi
1999 - 999+09
2001 - Virus
2003 - Satu Satu
2005 - PLUR
2006 - Slankissme
2007 - Slow But Sure
2008 - Slank - The Big Hip
2008 - Anthem For The Broken Hearted
Album Kompilasi
2003 - Bajakan
Album Live
1998 - Konser Piss 30 Kota
2001 - Virus Roadshow
2004 - Road to Peace
Album Soundtrack
2007 - Original Soundtrack "Get Married"
2009 - Original Soundtrack "Generasi Biru"
Album International
Since 1983 - Malaysian Edition 2006
Slank feat. Big Hip - Japan Edition 2008
Anthem For The Broken Hearted - USA Edition 2008
Penggemar
Slank adalah grup yang selalu mengusung pesan cinta damai dan pada kenyataanya Slank tidak saja berhasil merebut hati penggemar, tapi Slank juga telah berhasil membangkitkan semangat dan solidaritas dari sebuah generasi untuk punya sikap. Dan Slank memiliki kelompok penggemar yang fanatik dan kreatif, yang dikenal sebagai Slankers[2].
Slank Fan(s) Club
Slank Fan Club (SFC) adalah club resmi yang dibentuk oleh manajemen Slank untuk menampung para penggemar fanatik Slank. Fans Club ini dibentuk sejak Slank merilis albumnya yang pertama melalui formulir isian yang disisipkan dalam album. Seiring dengan perjalanan karir Slank, fans mereka pun berkembang semakin banyak.
Berpisahnya formasi Slank + BIP membuat manajer Slank saat itu harus mengolah ulang para penggemar Slank, maka pembuatan video musik lagu Tong Kosonk dari album Lagi Sedih pun melibatkan para Slankers sebagai model. Selain itu, diciptakan pula kebiasaan jumpa fans pada hari Rabu dan Sabtu di jalan Potlot III/14. Semenjak itu, suasana Potlot semakin ramai dikunjungi para fans.
Banyaknya Slankers yang berkumpul saat itu membuat Potlot menjadi ajang kreatifitas para Slankers. Di antara mereka ada yang membuat berbagai aksesoris, t-shirt, bahkan ada kelompok-kelompok yang membentuk band. Dari keramaian ini, dibentuklah Slankers Club Jakarta.
Ketika Bunda Iffet menjadi manajer Slank, ia melihat komunitas Fans Slank yang sudah semakin banyak ini harus lebih diberdayakan. Tercetuslah ide Bunda Iffet untuk menciptakan wadah yang independen di setiap kota bagi para Slankers yang kini bernama Slank Fans Club (SFC). Konser di Malang pada tahun 1998, menjadi titik tolak dipanggilnya sekumpulan Slankers di kota Malang oleh Bunda Iffet. Bunda melihat kelompok ini sudah terorganisir dengan rapi, maka mereka pun diberi pengarahan. [5] SFC Malang adalah yang pertama kali mendapat kesempatan untuk mengelola Slankers di luar Jakarta.
Buletin Slank
Untuk menyampaikan informasi kepada para Slanker, Slank dan manajemennya memutuskan untuk membuat sebuah newsletter yang kemudian disebut dengan nama Buletin Slank. Buletin ini berisi jadual, kisah-kisah pendek perjalanan tur panggung slank dan sebagainya. Nama buletin sendiri dipakai sebagai simbol agar para slanker melingkari (buletin) jadwal kegiatan slank di kalender kegiatan mereka masing-masing.
Buletin Slank inilah yang kemudian berkembang menjadi Koran Slank.
Koran Slank
Koran Slank diterbitkan pertama kali pada 10 Maret 2002.
[18.29
|
0
komentar
]



0 komentar
Posting Komentar